Jumat, 28 Oktober 2011

Reorientasi Semangat Pemuda Indonesia

Masa muda masa yang berapi-api
Yang maunya menang sendiri
Walau salah tak perduli...

Beberapa waktu yang lalu kita sempat dihebohkan dengan berita yang cukup miris didengar. Tak lain adalah berita tawuran antar mahasiswa di suatu daerah.

Pada satu kesempatan pula saya sempat melihat beberapa anak muda yang kira - kira umurnya seumuran mahasiswa terlibat debat kusir, adu komentar bahkan saling mengadu asesmen satu sama lain. Padahal masalah yang dibahas sangat sepele (bahkan tergolong gak penting): Siapakah almamater yang paling dibutuhkan Indonesia? -,-"

Dan suatu saat di twitter saya juga pernah mengikuti tweet seseorang yang bisa dikatakan muda lah. Orangnya saya gak kenal (dia follow saya duluan dan minta follback). Isi tweeinya itu tentang materi yang -sepertinya- baru dia dapatkan di kelas / kampus. Bahasa - bahasanya tinggi banget, bahkan terkesan ngajarin. Ketika ada yang mengkritik, dia cuma teriak (pakai capslock), "Tau apa lo tentang kedokteran?"

Sering kali kita juga melihat aksi mahasiswa yang awalnya bertujuan amat mulia, namun sayangnya harus dikotori dengan aksi saling mendorong bahkan sampai terlihat adu fisik. Lebih parahnya lagi, ketika diperiksa ternyata aksi tersebut tidak memiliki izin melakukan aksi.

Ir. Soekarno, pada masa kejayaan pemerintahannya, dalam setiap pidatonya sering membahas tentang semangat pemuda yang selalu berapi-api. Salah satu kutipannya yang amat terkenal adalah, "berikan aku sepuluh pemuda, maka aku akan mengubah dunia". Dan bahkan beberapa kursi parlemen pada saat itu pun termasuk dari golongan pemuda.

Memang tak bisa dipungkiri lagi, masa muda adalah ibarat masa keemasan dalam kehidupan seseorang. Masa muda adalah masa - masa penuh gelora, penuh tenaga, penuh ambisi dan penuh yang lainnya. Semua pemuda di berbagai belahan dunia (tak terkecuali di Indonesia) jika melalu masa ini penuh gelora ini pasti hari - harinya penuh dengan semangat juang. Namun, ada pertanyaan besar yang perlu  kita garisbawahi: "Kemanakah orientasi pengaplikasian dari semangat pemuda Indonesia masa kini? Apakah kepada peng-oposisi-an kepemerintahan secara berkesinambungan? Ataukah kepada kepentingan individual dengan alih - alih pengaruh terhadap masa depannya? Ataukah hanya sebatas kepada gengsi antar kelompok / RAS / sebagainya?

Betapa mirisnya negeri kita yang tercinta ini. Ketika rakyat - rakyat biasa yang sudah memasuki usia tak produktif sudah menaruh harapan besar kepada pemuda negeri ini -terlebih lagi kepada pemudaberintelektualitas tinggi, mahasiswa, justeru dikecewakan dengan sikap yang kurang tepat. Makin maraknya tawuran antar pelajar bahkan mahasiswa yang -katanya- berintegritas tinggi pun sekarang mulai ikut tawuran. Aksi demo mahasiswa menentang bahkan -katanya- mengecam kepresidenan secara berlebihan bahkan sering terjadi aksi tak diinginkan. Kurangnya dukungan terhadap kinerja sebagian pemerintahan yang sudah mulai membaik, kerap membuat para pemerintah yang mulai membaik itu menjadi merasa tak ada gunanya memperbaiki kinerja. Toh sama saja dia dibilang bangsat keparat koruptor bajingan juga, sama seperti yang lain. Maraknya debat - debat kusir antar mahasiswa yang sebenarnya amat gak pentig, hanya memancing emosi, egoisme dan perpecahan. Apalagi ditambah makin ramainya rasa apatis para pemuda kepada sistem negara sehingga membuat masyarakat awam semakin ragu dan acuh atas peluang kemajuan negara kita.

Oleh karena itu, sudah saatnya bagi kita selaku pengemban harapan -yang insya Allah akan mengemban amanah- untuk menumbuhkan sikap terbuka dan objektif, sehingga ketika ada perbaikan yang teraplikasi dapat kita dukung semaksimal mungkin dan membuat Indonesia semakin optimis mewujudkan pemerintahan yang lebih baik. Tak lupa juga untuk terus mengawasi kinerja ulil amri di NKRI tercinta ini dan terus mengkritisi serta mengoreksii tanpa pandang bulu. Ketika Pak SBY melakukan reshuffle kemudian kita melakukan protes besar - besaran, seharusnya itu juga terjadi ketika KPK mengalami ketumpulan, bahkan ketika Kasus Freeport mengambang.

Sekarang bukan lagi saatnya mengadu teori, bukan lagi saatnya untuk pamer kata - kata ilmiah, bukan lagi saatnya apatis terhadap ideologi lain. Kalau ada perbedaan pendapat yang tidak krusial, sepertinya tidak perlu diperdebatkan sedemikian hebat. Justeru perselisihan antar petinggi golongan di negeri ini mungkin sudah terbentuk ketika tak ada toleransi saat mereka masih muda. Saatnya berdewasa dalam menyikapi pendapat.

Di samping itu, kemampuan kita untuk berfikir secara idealis seharusnya diseimbangkan dengan kecerdasan emosional sehingga akan terus melahirkan penilaian objektif dan penyikapan yang efektif. Kini saatnya Indonesia dipimpin oleh orang - orang yang matang, bukannya yang mencari debat sana - sini, apalagi yang mengaja berkelahi ketika kalah berdebat (aduh rancu banget kalimatnya -,-). Sudah saatnya bagi kita untuk mengubah orientasi gelora jiwa muda kita, menuju efektifitas ideologi dan penyikapan, dalam rangka perbaikan negeri kita tercinta ini dengan tidak melibatkan ego masing - masing personal atau golongan.

Semoga Allah selalu memudahkan langkah kita dalam mewujudkan negara Indonesia yang telah diidamkan sekian lama.

Allohu a'lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar